Sambangi NTT, Nihayatul Wafiroh Siap Perjuangkan Insentif Nakes Korban Gempa

NTT-Wakil Ketua Komisi IX DPR RI dari Fraksi PKB, Nihayatul Wafiroh yang akrab disapa Ninik, bersama sejumlah pimpinan dan anggota Komisi IX DPR RI meninjau langsung kondisi fasilitas kesehatan mulai dari Rumah Sakit, Puskesmas, hingga Puskesmas Pembantu (Pustu) di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, pascagempa yang melanda wilayah tersebut pada 21-22 Agustus 2026.
Rombongan Komisi IX bertolak dari Jakarta menuju Labuan Bajo, kemudian melanjutkan perjalanan darat sekitar empat jam menuju Kabupaten Manggarai. Dalam kunjungan tersebut, rombongan juga membawa bantuan yang seluruhnya berasal dari dana bantuan pribadi anggota Komisi IX DPR RI.
Lokasi pertama yang dikunjungi adalah Rumah Sakit (RS) Ruteng, Kabupaten Manggarai. Kondisi rumah sakit tersebut menjadi perhatian serius karena sejumlah bangunan mengalami kerusakan dan dinilai sudah tidak layak digunakan. Beberapa bagian bangunan bahkan berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan dan berpotensi roboh.
Di tengah kondisi tersebut, pelayanan terhadap pasien tetap berjalan dengan memanfaatkan tenda-tenda darurat.
Salah satunya adalah tenda yang diberi tulisan “RUANG NIFAS”, tempat ibu yang akan maupun baru saja melahirkan mendapatkan perawatan. Ninik mengungkapkan, terdapat sekitar 15 pasien di tenda tersebut dengan kondisi yang beragam.
“Di sana ada ibu yang melahirkan bayi kembar, ada yang baru menjalani operasi caesar pada hari itu, ada yang mengalami pendarahan dan membutuhkan istirahat, ada yang baru menjalani operasi kuret, dan ada juga yang sedang menunggu kelahiran bayinya,” ujar Ninik dalam keterangannya, Senin (24/8/2026).
Di antara pasien tersebut terdapat seorang ibu berusia 16 tahun yang tengah menjalani perawatan setelah mengalami pendarahan. Meski demikian, kondisi kehamilannya dilaporkan baik. Secara umum, Ninik bersyukur sebagian besar ibu dan bayi yang dirawat berada dalam kondisi sehat.
Selain ruang nifas, sejumlah layanan rumah sakit juga terpaksa dipindahkan ke tenda darurat. Salah satunya ruang radiologi. Karena memiliki risiko paparan radiasi, rombongan tidak masuk ke dalam tenda tersebut.
Rombongan kemudian meninjau tenda yang difungsikan sebagai ruang Instalasi Gawat Darurat (UGD). Sejumlah pasien masih menjalani perawatan di sekitar 10 tempat tidur yang tersedia. Mayoritas pasien yang dirawat mengalami patah tulang akibat gempa.
Dalam dialog dengan para perawat, Ninik menyampaikan sejumlah persoalan yang perlu segera didorong kepada pemerintah, khususnya Kementerian Kesehatan. Pertama, Komisi IX mendorong adanya insentif bagi seluruh tenaga medis dan tenaga kesehatan yang bertugas di lokasi bencana. Menurutnya, insentif tersebut bukan sekadar persoalan finansial, tetapi juga bentuk penghargaan atas dedikasi tenaga kesehatan yang tetap bekerja dalam situasi sulit.
Kedua, bantuan tenaga kesehatan di lokasi bencana dinilai tidak boleh hanya berfokus pada dokter spesialis. Kebutuhan terhadap tenaga perawat juga harus menjadi perhatian.
“Saya kira insentif buat para Nakes yang menjadi korban gempa ini penting dan harus diperjuangkan. Mereka di satu sisi harus tetap melayani, tapi di sisi yang lain juga menjadi korban. Dan juga bantuan tenaga medis jangan hanya untuk dokter spesialis, tetapi juga perawat. Bisa mengambil dari Poltekkes yang ada agar perawat di tempat bencana memiliki waktu untuk beristirahat dan tidak mengalami burnout,” kata Ninik.
Menurutnya, kebutuhan tambahan tenaga perawat menjadi semakin penting karena sebagian tenaga kesehatan yang bertugas di RS Ruteng juga merupakan korban gempa. Komisi IX, lanjut Ninik juga meminta Pemerintah Daerah segera melakukan pendataan terhadap rumah tenaga medis dan tenaga kesehatan yang mengalami kerusakan akibat gempa.
“Pemerintah daerah harus segera mendata rumah tenaga kesehatan dan tenaga medis yang rusak karena bencana agar bisa segera mendapatkan bantuan perbaikan dari pemerintah pusat,” tegas Ninik.
Selanjutnya, Ninik bersama rombongan juga meninjau langsung kondisi kerusakan fasilitas kesehatan lainnya yang cukup masif di Pulau Flores. Salah satunya adalah Puskesma Bangka Kenda, Manggarai. Puskesmas tersebut adalah satu dari 68 unit yang mengalami kerusakan dan 19 di antaranya dilaporkan belum dapat melayani masyarakat.
"Di Puskesmas Bangka Kenda ini juga parah banget, efek gempa membuatnya tidak lagi bisa dipakai, lantai goyang, tembok runtuh, bahkan kami tidak bisa masuk. Lokasinya di atas gunung. Dan kami sudah meminta Kemenkes untuk tidak merenovasi, tapi merelokasi ke tempat aman," pungkasnya.


