Kebakaran Desa Adat Sade, Komisi VII DPR Minta Pemerintah Pulihkan Warga dan Audit Keselamatan Desa Adat

JAKARTA — Anggota Komisi VII DPR RI Siti Mukaromah meminta pemerintah segera memulihkan kehidupan warga terdampak kebakaran di Desa Adat Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, sekaligus melakukan audit keselamatan terhadap desa-desa adat di Indonesia.
"Kami prihatin dengan kebakaran yang melanda Desa Adat Sade. Ini bukan hanya duka bagi masyarakat Suku Sasak, tetapi juga kehilangan bagi Indonesia karena yang terdampak bukan sekadar rumah warga, melainkan bagian dari warisan budaya yang hidup dan diwariskan lintas generasi," kata politikus yang akrab disapa Erma itu di Jakarta, Senin (24/8/2026).
Erma meminta pemerintah memastikan kebutuhan dasar warga terdampak terpenuhi, termasuk tempat tinggal sementara, pangan, sandang, air bersih, layanan kesehatan, dan pendampingan psikososial. Ia juga mendesak agar pemulihan ekonomi warga diperhatikan, mengingat sebagian masyarakat Sade bergantung pada sektor pariwisata, kerajinan, dan perdagangan yang terkait dengan keberadaan desa adat tersebut.
"Pemulihan tidak boleh berhenti pada membangun kembali rumah. Kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat harus dipulihkan," ujarnya.
Politikus Fraksi PKB itu menekankan proses rekonstruksi Sade harus dilakukan hati-hati agar karakter, arsitektur, tata ruang, dan nilai budaya masyarakat Sasak tetap terjaga, dengan melibatkan masyarakat adat dan ahli kebudayaan.
Erma mendorong pemerintah melakukan audit keselamatan terhadap desa-desa adat di Indonesia, terutama yang memiliki bangunan tradisional berbahan mudah terbakar. Ia menyebut Wae Rebo di Manggarai, Nusa Tenggara Timur — yang mempertahankan rumah adat Mbaru Niang dan meraih UNESCO Asia-Pacific Awards for Cultural Heritage Conservation pada 2012 — sebagai contoh desa adat yang perlu turut mendapat perhatian keselamatan.
"Jangan menunggu desa adat lain terbakar baru kemudian kita melakukan evaluasi. Pemerintah harus melakukan pencegahan sekarang. Sade harus dipulihkan, tetapi yang lebih penting adalah memastikan tragedi serupa tidak terjadi di desa adat lainnya," pungkas Erma.
Penulis : Rach Alida Bahaweres


