Santri dan Tanggung Jawab Peradaban

Oleh: Taufiq R. Abdullah (Anggota DPR RI Fraksi PKB, Alumni ponpes Tanbihul Ghofilin, Mantrianom, Bawang, Banjarnegara)
Sejarah telah memberikan tempat terhormat kepada kaum santri. Mereka ikut memperjuangkan kemerdekaan, mempertahankan kedaulatan, dan membangun kehidupan kebangsaan. Tetapi sejarah bukan deposito yang bunganya bisa terus dipanen oleh generasi berikutnya. Para pendahulu memperoleh kehormatan karena karya dan pengorbanannya. Generasi sekarang harus menemukan kehormatannya sendiri.
Maka, memperingati Hari Santri semestinya bukan hanya mengenang masa lalu, melainkan juga mempertanyakan masa depan. Di tengah perubahan dunia yang semakin cepat, apakah santri akan menjadi penggerak kemajuan atau sekadar penonton yang rajin mengomentari perubahan?
Pertanyaan ini menyangkut hakikat kesantrian itu sendiri. Santri bukan sekadar identitas sosial atau seseorang yang pernah tinggal di pesantren. Kesantrian merupakan pandangan hidup yang menempatkan ilmu sebagai jalan pengabdian, agama sebagai sumber pencerahan, dan kehidupan sebagai medan menghadirkan kemaslahatan.
Kesalehannya harus utuh. Ketekunan beribadah mesti berjalan bersama kejujuran, kedisiplinan, kemandirian, etos kerja, kecerdasan, dan kepedulian sosial. Sulit membayangkan seseorang disebut saleh apabila rajin berdoa tetapi malas bekerja, fasih berbicara tentang keadilan tetapi gemar berlaku curang, atau menguasai banyak dalil tetapi tidak peduli terhadap penderitaan manusia.
Agama bukan sekadar untuk diketahui dan dibicarakan. Ia harus menjadi kekuatan yang memperbaiki kehidupan.
Membaca Kitab, Membaca Zaman
Pesantren memiliki warisan intelektual yang mengagumkan. Kitab-kitab klasik menyimpan kekayaan pemikiran, metodologi, dan pengalaman panjang para ulama dalam memahami ajaran Islam serta menjawab persoalan masyarakat.
Namun, sebagaimana para ilmuan muslim sering menggugat, tulisan ini juga perlu mengingatkan ulang : penghormatan terhadap warisan keilmuan tidak boleh berubah menjadi pengultusan terhadap seluruh produk pemikiran masa lalu. Para ulama besar justru menjadi besar karena keberanian berpikir, ketekunan meneliti, dan kesanggupan menjawab persoalan zamannya.
Mereka tidak sekadar mewariskan kesimpulan, tetapi juga cara atau manhaj memperoleh kesimpulan.
Tradisi ijtihad, qiyas, maslahah, dan maqashid al-syari'ah menunjukkan bahwa pemikiran Islam memiliki perangkat metodologis untuk mendialogkan prinsip-prinsip agama dengan kenyataan kehidupan.
Di sinilah perlunya terus menerus melakukan refleksi secara kolektif. Bahwa wahyu harus tetap menjadi sumber nilai dan acuan utama, sementara pemahaman manusia terhadapnya harus terus diuji melalui ketepatan metodologis, keluasan pengetahuan, kejujuran akal dan perubahan konteks.
Santri perlu menguasai kitab sekaligus memahami problematika dalam masyarakat. Mempelajari hukum pertanian penting, tetapi memahami mengapa petani sulit sejahtera juga penting. Mengetahui hukum fiqh perdagangan merupakan keharusan, tetapi mengerti sistem ekonomi global, teknologi finansial, dan persoalan ketimpangan tidak kalah mendesak.
Teks harus menjadi sumber pencerahan untuk membaca realitas, bukan diperlakukan sebagai benda suci di menara gading. Atau sekadar sebagai senjata pamungkas dalam perdebatan.
Dari Konsumen Menjadi Produsen Pengetahuan
Kita sudah digiring menuju perubahan dunia yang sangat dahsyat. Kecerdasan buatan, bioteknologi, otomasi industri, dan revolusi digital mengubah cara manusia bekerja, berproduksi, dan berinteraksi. Perubahan iklim, krisis energi, ketahanan pangan, dan persaingan geopolitik menambah kompleksitas persoalan.
Dalam persaingan global, kekuatan suatu bangsa semakin ditentukan oleh kualitas manusianya, penguasaan ilmu pengetahuan, kapasitas riset, inovasi teknologi, dan kemampuan mengelola sumber daya secara berkelanjutan.
Kekayaan alam saja tidak cukup. Bangsa yang memiliki tambang tetapi tidak menguasai industri, menghasilkan bahan pangan tetapi tidak menguasai teknologi pangan, hampir dapat dipastikan menjadi pihak yang justeru memperoleh keuntungan paling kecil. Di tempat lain, bangsa yang tidak memiliki sumberdaya alam, tetapi menguasai teknologi, terbukti menjadi bangsa yang kaya dan maju.
Lalu, di manakah posisi santri dalam percaturan tersebut?
Pertanyaan ini menuntut keberanian melakukan otokritik. Walaupun banyak pesantren yang telah melakukan pembaruan yang mengesankan. Tetapi pekerjaan besar masih terbentang. Sebagian lembaga pendidikan pesantren masih menghadapi keterbatasan dalam penguasaan sains, teknologi, bahasa asing, budaya riset, dan keterhubungan dengan perkembangan industri.
Persoalannya bukan sekadar menambah mata pelajaran atau membeli komputer. Yang lebih mendasar adalah transformasi epistemologis: dari pendidikan yang terutama mereproduksi pengetahuan menuju pendidikan yang juga mampu menciptakan pengetahuan.
Santri perlu dilatih bukan hanya menjawab pertanyaan, tetapi juga merumuskan pertanyaan baru. Bukan sekadar menghafal teori, melainkan menguji, mengembangkan, bahkan menemukan teori dan pemecahan masalah.
Kita bangga kepada Al-Khawarizmi, Ibnu Sina, Al-Biruni, dan Ibnu Khaldun. Tetapi kebanggaan terhadap mereka akan terasa ganjil apabila kita tidak berusaha melahirkan ilmuwan, peneliti, dan pemikir besar berikutnya.
Mengagumi kejayaan masa lalu memang lebih mudah daripada membangun kejayaan baru. Yang pertama cukup dengan pidato. Yang kedua membutuhkan kerja keras, laboratorium, anggaran riset, dan kesabaran panjang.
Pesantren sebagai Pusat Kemajuan
Pesantren sesungguhnya memiliki modal cukup : tradisi keilmuan, pembentukan karakter, kedisiplinan, solidaritas, kemandirian, dan kedekatan dengan masyarakat.Inilah modal yang dapat dikembangkan menjadi kekuatan pendidikan yang mencerahkan, memberdayakan, sekaligus memajukan umat.
Sepertinya, zaman sedang menuntut dunia pesantren agar memiliki pusat-pusat riset dan pengembangan. Sebut saja misalnya di bidang : produktivitas pangan atau inovasi pangan, pengembangan teknologi pengolahan sampah, energi terbarukan, kewirausahaan digital, dan sebagainya. Pesantren dapat menjadikan masyarakat sekitarnya sebagai mitra pembelajaran, penelitian, dan pemberdayaan.
Dengan demikian, ilmu tidak berhenti di ruang kelas. Ia bergerak menjadi karya, meningkatkan kesejahteraan, dan memperbaiki kualitas kehidupan.
Tentu pesantren harus tetap melahirkan ulama yang mendalam penguasaan ilmu agamanya. Tetapi pesantren juga perlu melahirkan ilmuwan, teknologi, ekonom, pengusaha, negarawan, dan pemimpin masyarakat yang memiliki fondasi spiritual serta integritas moral yang kokoh.
Kedalaman agama dan penguasaan ilmu pengetahuan bukan dua jalan yang saling meniadakan. Keduanya merupakan kekuatan yang semestinya saling melengkapi.
Kepemimpinan dan Arah Peradaban
Tantangan santri tidak berhenti pada penguasaan pengetahuan. Mereka juga harus dipersiapkan untuk mengambil tanggung jawab kepemimpinan.
Dunia membutuhkan pemimpin yang bukan hanya cerdas, tetapi juga memiliki integritas, empati, memiliki keberanian moral, serta memahami persoalan manusia secara menyeluruh.
Kepemimpinan masa depan menuntut penguasaan teknologi, ekonomi, geopolitik, tata kelola, dan kemampuan bekerja dalam masyarakat yang semakin majemuk.
Nilai-nilai kesantrian seperti amanah, tawaduk, tasamuh, tawazun, dan i'tidal menyediakan fondasi etik yang berharga. Namun, moralitas tanpa kompetensi dapat melahirkan ketidakberdayaan. Sebaliknya, kompetensi tanpa moralitas berisiko melahirkan kerusakan.
Karena itu, pendidikan santri harus mempertemukan keduanya.
Santri perlu disiapkan bukan hanya untuk memimpin komunitasnya, tetapi juga untuk mengelola lembaga publik, membangun dunia usaha, mengembangkan ilmu pengetahuan, memimpin bangsa, bahkan berkontribusi dalam penyelesaian persoalan global.
Kepemimpinan bukan hak istimewa yang diperoleh karena identitas keagamaan. Ia merupakan amanah yang harus dibuktikan melalui kapasitas, keteladanan, dan kemanfaatan.
Di sinilah kesantrian dapat memberikan sumbangan penting bagi arah peradaban manusia: menghadirkan kemajuan yang tidak kehilangan nurani.
Kemajuan teknologi harus berjalan bersama penghormatan terhadap martabat manusia. Pertumbuhan ekonomi mesti disertai keadilan. Pemanfaatan sumber daya alam harus memperhatikan kelestarian lingkungan. Kekuasaan harus ditempatkan sebagai instrumen pelayanan, bukan sarana memperbesar keistimewaan pribadi.
Menulis Sejarah Baru
Hari Santri adalah momentum untuk memperbarui kesadaran dan tanggung jawab sejarah.
Santri sejati harus mampu menjaga tradisi sekalus mengembangkannya secara kreatif. Santri sejati harus berani berpikir agar tidak hanya sebagai konsumen teknologi, tetapi perlu ikut menciptakannya. Santri sejati digodok di pesantren bukan untuk mengagumi peradaban besar, melainkan harus mengambil bagian dalam membangunnya.
Pesantren bukan sekadar tempat pelestarian pengetahuan masa lalu. Ia harus berkembang menjadi pusat pembentukan karakter, pengembangan ilmu, inovasi, dan kepemimpinan.
Ukuran keberhasilannya bukan sekadar banyak-,banyakan kitab yang dikhatamkan, melainkan juga kedalaman pemahaman, keluasan wawasan, internalisasi dalam kepribadian, serta karya nyata yang dihasilkan.
Para pendahulu telah membuktikan kemampuannya dalam perjuangan kebangsaan. Dunia santri hari ini harus siap berkolaborasi dalam penyelesaian masalah-masalah aktual seperti : kemiskinan, ketimpangan, kebodohan, kerusakan lingkungan, ketertinggalan teknologi, dan persaingan global.
Semua itu membutuhkan santri yang berilmu, berkarakter, tangguh, kreatif, dan memiliki keberanian melakukan perubahan.
Santri harus mampu membaca kitab dengan jernih, membaca zaman dengan cerdas, dan menulis masa depan dengan karya.
Sebab, peradaban tidak dibangun oleh mereka yang hanya pandai mengenang sejarah, tetapi oleh mereka yang memiliki keberanian menciptakan sejarah.
Selamat Hari Santri.


