|  | 

Berita Nasional

Aktivis Bahtsul Masail Jakarta: Jangan Tukar NU dengan Bisyarah

JAKARTA— Penasihat Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PWNU Jakarta, KH. Mukti Ali Qusyairi, menyayangkan maraknya kritik bernada negatif hingga perundungan terhadap Rais Aam PBNU KH. Miftachul Akhyar di media sosial.

Menurutnya, kondisi tersebut semakin memprihatinkan karena suara-suara negatif itu justru banyak datang dari kalangan internal Nahdliyin sendiri, bukan semata-mata dari pihak di luar NU.

“Sedih sekali kalau sosok Rais Aam PBNU dibully oleh netizen. Tone-nya negatif, bahkan kekuatan videonya juga menunjukkan hal yang sama. Yang menyedihkan, mereka yang melakukan bully itu bukan orang di luar NU, melainkan orang NU sendiri,” ujar KH. Mukti dalam acara Serial Diskusi Muktamar ke-35 NU dengan tema Mencari Sosok Ideal Rais Aam PBNU di Kafe Trisnoku, Jalan Raden Saleh, Jakarta Pusat, Senin (24/8/2026).

Ia menilai fenomena tersebut perlu dibaca sebagai gejala delegitimasi sosial terhadap kepemimpinan organisasi. Menurutnya, aspirasi warga Nahdliyin saat ini dapat dilihat secara terbuka melalui berbagai percakapan dan komentar di media sosial.

“Kalau seandainya PCNU dan PWNU mendengarkan aspirasi warga Nahdliyin, cukup melihat bagaimana komentar-komentar warga Nahdliyin di media sosial. Bahkan, diskusi-diskusi mengenai hal ini juga ramai,” katanya.

KH Mukti menegaskan, PWNU dan PCNU sebagai struktur organisasi yang berada dekat dengan warga Nahdliyin semestinya mampu menangkap aspirasi tersebut secara objektif. Apalagi, dinamika yang berkembang di akar rumput menjadi salah satu pertimbangan penting dalam menentukan arah kepemimpinan NU ke depan.

“Kalau PCNU dan PWNU merupakan representasi dari aspirasi warga Nahdliyin, maka sebenarnya sudah cukup jelas bagaimana aspirasi tersebut. Kalau kepengurusan sekarang ini, tonenya negatif. Dan itu mayoritas,” ujarnya.

Karena itu, ia berharap PWNU dan PCNU benar-benar mendengarkan suara warga Nahdliyin dalam proses pemilihan Rais Aam dan Ketua Umum PBNU pada Muktamar ke-35 NU di Jombang yang dijadwalkan berlangsung pada 27–31 Agustus 2026.

KH Mukti mengingatkan seluruh pihak agar proses suksesi kepemimpinan NU tidak direduksi menjadi transaksi kepentingan jangka pendek. Menurutnya, NU merupakan organisasi yang memiliki nilai sejarah, keagamaan, sosial, dan kebangsaan yang sangat besar sehingga harus dijaga kehormatannya.

“Sekali lagi saya katakan, NU tidak bisa dijual dengan harga berapa pun. NU itu sangat istimewa, sangat mahal. Jangan mau NU dikompromikan hanya dengan bisyarah,” tegasnya.

Ia berharap Muktamar ke-35 NU menjadi momentum untuk melakukan refleksi sekaligus mengembalikan proses pengambilan keputusan organisasi kepada prinsip-prinsip musyawarah, kemaslahatan, dan aspirasi warga Nahdliyin.

“Jangan sampai kepentingan sesaat mengalahkan kepentingan NU yang jauh lebih besar. Yang harus menjadi pertimbangan utama adalah masa depan NU dan kemaslahatan seluruh warga Nahdliyin,” pungkasnya.

Penulis: Khafidlul Ulum

Related Articles

A new version of this app is available. Click here to update.