Peredaran Narkoba Menyasar Remaja, Taufiq Abdullah PKB: Edukasi Bahaya Narkoba Harus Sejak Dini

PURBALINGGA, Peredaran narkoba hingga obat terlarang harus menjadi perhatian serius dari berbagai pihak, karena sudah merambah ke pelosok-pelosok desa. Lebih memprihatinkan lagi, sasaran peredarannya justeru banyak di kalangan remaja dan pelajar.
Anggota DPR RI dari Fraksi PKB Taufiq R Abdullah turut berupaya melakukan pencegahannya melalui sosialisasi Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika yang diikuti 300 siswa SLA dari 8 sekolah, bertempat di di Aula SMA Negeri 1 Purbalingga, Senin (10/8/2026). Sekaligus mempelopori terbentuknya Gerakan Pelajar Anti Narkoba.
Taufiq mengatakan, peredaran narkoba dan obat terlarang saat ini semakin marak. Peredarannya dilakukan dengan berbagai cara, dan yang mengagetkan ditemukan modus penjualan melalui warung yang berkedok toko kelontong. "Banyak ditemukan indikasi warung-warung yang menjual secara bebas, dengan berkedok toko kelontong," katanya.
Menurutnya, pelajar menjadi salah satu kelompok yang rentan menjadi sasaran peredaran obat terlarang. Karena itu, pemahaman mengenai bahaya narkoba perlu diberikan sejak dini.
"Generasi muda dalam hal ini pelajar adalah sasaran utama narkoba. Ini jelas sangat berbahaya dan dapat menghancurkan masa depan bangsa. Disaat Indonesia mendapatkan bonus demografi, dimana mayoritas penduduk kita adalah generasi muda yang diharapkan menjadi modal kemajuan bangsa. Tentu diperlukan generasi muda yang berkualitas secara intelektual, mental, dan fisik. Jika generasi muda terjebak pada penggunaan narkoba, maka bonus demografi akan menjadi bencana bagi masa depan Indonesia", tegasnya.
Di Purbalingga sendiri menurut penjelasan Kepala BNN Kabupaten Purbalingga Nasrudin, hingga Agustus 2026, terdapat 25 pelajar yang telah menjalani rehabilitasi di bawah pantauan BNNK Purbalingga.
Disisi lain Kasat Resnarkoba Polres Purbalingga AKP Ichwan Ma'ruf mengatakan, kepolisian terus melakukan sosialisasi pencegahan sekaligus penindakan terhadap pelaku peredaran narkoba.
Taufiq berharap pemerintah menyadari keterbatasannya dalam memerangi narkoba. Setelah gagal mencegah di hulu, tidak mampu membendung masuknya narkoba dari luar wilayah Indonesia. Seharusnya pemerintah melakukan kolaborasi dengan rakyat, dengan lembaga-lembaga sosial, lembaga pendidikan dan tokoh masyarakat agar peredarannya tidak meluas.
"Upaya pemerintah dalam pemberantasan narkoba tidak mungkin akan efektif jika tidak dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan masyarakat. Peran sekolah, keluarga, lembaga sosial, Ormas, pesantren sangat diperlukan untuk mencegah generasi muda menjadi korban penyalahgunaan narkoba", tegas Taufiq.
Kepala SMA Negeri 1 Purbalingga Widi Purnama sangat mendukung program pencegahan penyalahgunaan narkoba di lingkungan sekolah. Sosialisasi antinarkoba sebaiknya secara rutin dilakukan sebagai upaya meningkatkan kesadaran para siswa.
Kegiatan tersebut diikuti sekitar 300 pelajar dari sejumlah sekolah di Purbalingga. Mereka berasal dari SMA Negeri 1 Purbalingga, SMA Negeri 2 Purbalingga, SMK Negeri 1 Purbalingga, SMK Negeri Jateng, SMK YPT 1 Purbalingga, SMK YPT 2 Purbalingga dan MAN 1 Purbalingga.
Selain mendapatkan sosialisasi mengenai UU Narkotika dan bahaya penyalahgunaan narkoba, para pelajar juga mendeklarasikan diri sebagai generasi muda antinarkoba. (adv)


