|  |  | 

Berita Nasional Jendela Reses

Maman: Khazanah Pesantren Menjadi Benteng Indonesia dari Paham Ekstrimis

MAJALENGKA – Khazanah keilmuan pesantren telah terbukti menjadi benteng terkokoh dalam menjaga NKRI dari pemahaman keagamaan yang eksklusif dan ekstremis. Hal tersebut diungkapkan oleh Wakil Ketua Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (FPKB), KH. Maman Imanulhaq didepan ratusan kiai dan santri dari Karawang, Purwakarta, Subang, Sumedang dan Majalengka, saat pidato acara Musabaqoh Kitab Kuning (MKK) yang diselenggarakan oleh Garda Bangsa PKB Jawa Barat.

 

“Berkat upaya ulama dan karyanya, khasanah pesantren mampu menjadi benteng bagi Indonesia dari paham ekstrimis,” ujarnya diacara yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Al-Mizan, Jatiwangi, Majalengka, Minggu 18/6.

 

Menurut Ketua Lembaga Dakwah PBNU ini, salah satu kitab yang populer yang banyak dikaji oleh ulama dan tokoh-tokoh agama adalah kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazaliath-ThusiAsy-Syafi’i (Imam Al Ghozali). Dia menambahkan, jika tradisi (al-turâts) khas atau khazanah kejiwaan (makhzun al-nafs) yang dimiliki pesantren telah melahirkan pemikiran yang progresif-transformatif dalam upaya membangun masyarakat.

 

“Pesantren acapkali bersifat fleksibel dan toleran sehingga jauh dari watak radikal, apalagi ekstrem dalam menyikapi masalah sosial, politik, maupun kebangsaan,” tegasnya. Karena itulah, lanjut Kyai Maman, pesantren mampu menjembatani problem keotentikan dan kemodernan (musykilah al-ashalah wa al-hadatsah) secara harmonis.

 

Tradisi ini, sambung Pengasuh Ponpes Al-Mizan ini, harus mampu terus eksis memperjuangkan tujuan dasar Syariat Islam (maqâshid al-syari‘at), yakni menegakkan nilai dan prinsip keadilan sosial, kemaslahatan umat manusia, kerahmatan semesta, dan kearifan lokal.

 

Syariat Islam yang dimaksud, yang sejalan dengan kehidupan demokrasi dan mencerminkan karakter genuine kebudayaan Indonesia sebagai alternatif dari tuntutan formalisasi Syariat Islam yang kaffah pada satu sisi, dengan keharusan menegakkan demokrasi dalam nation-state Indonesia pada sisi lain.

 

“Dengan modal tradisi yang fleksibel dan toleran, sejak lima ratus tahun lalu, pesantren mampu memainkan berbagai peran penting keagamaan dan kebangsaan”, pungkasnya. []

 

 

Related Articles

Kata Mutiara

“Keberhasilan seorang pemimpin diukur dari kemampuan mereka dalam menyejahterakan umat yang mereka pimpin” --- Gusdur