|  | 

Opini

Obituari Fathan Subchi: Mr. No Problem

Mas Fathan Subchi memang bukan sosok yang lazim kita bayangkan ketika mendengar sebutan pejabat tinggi negara. Mana ada pejabat yang membuka pintu rumahnya nyaris 24 jam bagi siapa saja yang ingin bertandang? Mana ada pejabat yang rutin menggelar pengajian setiap Rabu malam selama bertahun-tahun? Mana ada pejabat negara yang menerima tamu tanpa protokoler berlebihan? Mana ada pejabat yang nyaris tak pernah berkata tidak ketika dimintai tolong, sepanjang dirinya mampu membantu?

Dan mana ada pejabat yang tertawa begitu lepas dan keras saat bercanda, di mana pun dan kapan pun?

Di tengah dunia yang dipenuhi masalah dan berbagai kerumitan, Mas Fathan seolah menjalani semuanya dengan enteng, tanpa banyak beban. Barangkali itulah yang membuat Cak Imin, patron sekaligus seniornya, menjulukinya Mr. No Problem.

Mas Fathan memang aktivis dan santri tulen. Ia mengawali perjalanan karier dari bawah, menapaki satu demi satu tangga pengabdian dengan ketekunan yang luar biasa. Apa pun tugas yang diberikan para seniornya di PMII maupun PKB, ia kerjakan dengan sungguh-sungguh hingga tuntas. Tak ada kata tidak, apalagi keluhan yang berlebihan.

Mungkin, dalam pikirannya, tugas-tugas organisasi itu bukanlah sesuatu yang terlalu berat. Jauh lebih berat barangkali beban hidup orang-orang kecil di kampung-kampung pelosok Demak, Jawa Tengah, yang sejak awal menjadi bagian dari dunia yang ia kenal.

Ketelatenan, kesungguhan, dan kesediaannya mengerjakan apa saja itulah yang akhirnya mengantarkan Mas Fathan ke posisi-posisi penting yang mungkin tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Saya membayangkan, sebagai lulusan LPIA, ia barangkali tak pernah sekalipun bermimpi bakal duduk sebagai anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), sebuah lembaga tinggi negara yang memegang peran penting dalam mengawal akuntabilitas pengelolaan keuangan negara.

Namun, begitulah Mas Fathan. Ia tidak sibuk membayangkan jabatan tinggi. Ia hanya menjalani tugas yang ada di hadapannya, menyelesaikannya dengan baik, lalu bergerak ke tugas berikutnya. Seolah-olah, baginya, tak ada pekerjaan yang terlalu kecil untuk dikerjakan dan tak ada tanggung jawab yang pantas ditinggalkan di tengah jalan.

Mas Fathan juga pribadi yang apa adanya. Ia akan makan apa yang ingin dimakan. Tak ada istilah jaim, tak banyak pantangan, dan tak pula terlalu sibuk memikirkan bagaimana dirinya terlihat di mata orang lain. Padahal, sebagai aktivis dan pejabat publik, ia hampir selalu bertemu banyak orang dalam berbagai kesempatan.

Barangkali, karena terlalu sibuk mengurusi banyak hal dan melayani begitu banyak orang, ia justru kurang memberi perhatian kepada dirinya sendiri. Pola hidupnya berjalan begitu saja. Tidur dan makan mengikuti keadaan, sementara olahraga dilakukan sesempat dan sesukanya. Kalau ingin bermain tenis meja, tinggal mengambil bet. Kalau ingin bermain padel, ya langsung gas. Tak banyak jadwal, tak ada pola yang benar-benar teratur.

Kini, setelah kepergianmu, Ketua, hal-hal kecil itu justru terasa begitu berarti. Kebiasaan-kebiasaan sederhana yang dulu tampak biasa saja, kini menjelma kenangan yang sulit diulang. Tawa lepasmu, pintu rumahmu yang selalu terbuka, kesediaanmu membantu siapa saja, juga pengajian Rabu malam yang terus berjalan bertahun-tahun—semuanya menjadi jejak tentang siapa dirimu sesungguhnya.

Mungkin ada hal-hal yang luput kita perhatikan. Mungkin ada tubuh yang terlalu sering diajak bekerja, sementara kebutuhan untuk beristirahat kurang mendapat tempat. Tetapi kini, semua itu tinggal menjadi perenungan bagi kami yang masih diberi kesempatan untuk melanjutkan perjalanan.

Pada akhirnya, mungkin Allah memang lebih menyayangimu, Ketua.

Mungkin orang-orang saleh yang diam-diam selalu engkau ziarahi semasa hidup sedang menyambutmu dengan riang gembira. Mungkin pula mereka yang selama ini engkau kirimi doa kini bergantian mendoakanmu. Kita tak pernah tahu bagaimana perjumpaan itu berlangsung. Yang kita tahu, kehidupan ini memang hanya persinggahan, dan setiap dari kita akan pulang pada waktunya.

Selamat jalan, Ketua. Selamat bersenang-senang dalam dekapan Sang Kekasih Sejati.

Di dunia ini, engkau telah meninggalkan begitu banyak cerita, persahabatan, dan kebaikan. Saya dan jutaan kader PMII serta PKB bersaksi: engkau orang baik. Engkau telah menjalani hidup dengan caramu sendiri—tanpa banyak pretensi, tanpa protokoler berlebihan, tetapi dengan hati yang lapang bagi begitu banyak orang.

Barangkali itulah warisan terbesar seorang Mr. No Problem: bukan jabatan, bukan pangkat, bukan pula sederet gelar kehormatan, melainkan kesediaan untuk selalu hadir dan membantu ketika orang lain membutuhkan.

Selamat jalan, Mas Fathan. Kami akan merindukan tawamu, keramahanmu, dan caramu membuat persoalan yang rumit terasa lebih ringan.

Innalillahi wa inna ilaihi raji'un.

Al-Fatihah.

Penulis : Suwarno

Related Articles

A new version of this app is available. Click here to update.