Ketika Nahdliyin Memilih Kampus Muhammadiyah

OPINI Oleh : H. Andik Kuswanto, M.Hum
(Rektor Universitas Arya Wangsa Subang, Dosen Ilmu Politik, Universitas Sunan Gresik, Koordinator Tenaga Ahli Fraksi PKB DPR RI)
Ada satu fenomena yang menarik untuk direnungkan NU hari ini: banyak anak-anak nahdliyin yang justru memilih kuliah di kampus Muhammadiyah.
Fenomena ini kembali terasa ketika Pesmaba Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) viral di media sosial. Terlepas dari pro-kontra terhadap kemasan acaranya, viralnya kegiatan tersebut menunjukkan satu hal yang penting: bagaimana sebuah perguruan tinggi mampu membangun identitas, pengalaman, dan daya tarik yang kuat bagi mahasiswa barunya.
Di tengah itu, kita patut bertanya: apa yang bisa dipelajari NU dari fenomena tersebut?
Pertanyaan ini bukan untuk mempertentangkan NU dengan Muhammadiyah. Bukan pula untuk mempertanyakan identitas mahasiswa yang memilih kampus Muhammadiyah.
Seorang nahdliyin yang kuliah di kampus Muhammadiyah tetap bisa menjadi nahdliyin. Begitu pula sebaliknya.
Tetapi pilihan tersebut menunjukkan bahwa identitas organisasi bukan satu-satunya pertimbangan ketika masyarakat memilih pendidikan.
Orang tua dan mahasiswa mempertimbangkan kualitas akademik, reputasi kampus, fasilitas, biaya, jaringan alumni, peluang kerja, lingkungan belajar, hingga bagaimana sebuah kampus membangun pengalaman mahasiswa.
Dengan kata lain, kualitas mempunyai daya tariknya sendiri.
NU sebenarnya memiliki modal yang sangat besar. Jaringan pesantren, madrasah, sekolah, dan perguruan tinggi NU tersebar luas. Basis nahdliyin juga sangat besar. Namun, jangan sampai kita terjebak pada kebanggaan jumlah.
Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah anak-anak nahdliyin menjadikan kampus NU sebagai pilihan utama ketika mereka menentukan masa depan pendidikan tingginya?
Jika jawabannya belum, maka itu bukan alasan untuk menyalahkan mereka. Justru NU harus bercermin.
Sebab mahasiswa tidak hidup dalam sekat-sekat organisasi. Mereka hidup dalam dunia yang semakin kompetitif. Mereka mencari institusi yang mampu memberikan masa depan.
Di sinilah viralnya Pesmaba UMM menjadi menarik. Bukan semata-mata karena viralnya sebuah kegiatan mahasiswa baru, tetapi karena ia memperlihatkan bagaimana institusi pendidikan mampu mengemas identitas, pengalaman, dan kebanggaan menjadi bagian dari daya tarik kampus.
NU perlu belajar bahwa membangun perguruan tinggi bukan sekadar mendirikan kampus. Yang dibangun adalah ekosistem.
Ekosistem akademik yang kuat. Dosen yang berkualitas. Riset yang produktif. Alumni yang memiliki jejaring. Mahasiswa yang mendapatkan pengalaman berharga. Dan yang tak kalah penting, sebuah identitas kampus yang membuat mahasiswanya merasa bangga menjadi bagian dari institusi tersebut.
Jangan sampai kampus NU hanya kuat dalam label, tetapi lemah dalam pengalaman. Jangan sampai kita meminta anak-anak nahdliyin kuliah di kampus NU atas dasar identitas, sementara kampus lain menawarkan kualitas dan pengalaman yang lebih menarik.
Identitas bisa menjadi pintu masuk. Tetapi kualitaslah yang membuat orang bertahan dan kembali merekomendasikannya kepada orang lain.
Karena itu, fenomena nahdliyin yang kuliah di kampus Muhammadiyah seharusnya tidak dibaca sebagai kekalahan NU. Ia adalah alarm sekaligus peluang untuk berbenah.
NU tidak perlu melarang anak-anaknya belajar di mana pun. Justru sebaliknya, biarkan mereka belajar di mana saja, mengambil ilmu sebanyak-banyaknya, lalu membawa pulang pengetahuan itu untuk membangun masyarakat.
Tetapi pada saat yang sama, NU harus memiliki keberanian untuk bertanya kepada dirinya sendiri: Mengapa anak-anak kita tertarik pada kampus orang lain?
Dan pertanyaan berikutnya jauh lebih penting: Apa yang harus kita lakukan agar kampus NU menjadi pilihan bukan karena mahasiswanya NU, tetapi karena kampusnya memang berkualitas?
Sebab pendidikan yang besar bukan pendidikan yang berhasil mengurung siswanya dalam identitas.
Pendidikan yang besar adalah pendidikan yang membuat identitas menjadi modal untuk berkompetisi di ruang yang lebih luas.
Maka mungkin sudah waktunya NU berhenti sekadar menghitung berapa banyak lembaga pendidikan yang dimiliki.
Mulailah menghitung berapa banyak lembaga pendidikan NU yang menjadi pilihan pertama, berapa banyak riset yang dihasilkan, berapa banyak inovasi yang diciptakan, dan berapa banyak alumninya yang mampu menjadi pemain utama dalam perubahan zaman.
Sebab pada akhirnya, anak muda tidak memilih masa depannya berdasarkan siapa pemilik kampusnya. Mereka memilih berdasarkan seberapa besar kampus itu mampu menjanjikan masa depan.
Dan tugas NU adalah memastikan bahwa kampus-kampusnya mampu memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut.


