|  | 

Kegiatan Fraksi

Ida Fauziyah: Jakarta Tak Lagi Kekurangan Jalan Tapi Krisis SDM

JAKARTA– Menjelang usia lima abad, Jakarta dinilai telah menyelesaikan sebagian besar pekerjaan rumah pembangunan fisik. Jalan, transportasi publik, hingga berbagai infrastruktur penunjang telah berkembang pesat dalam dua dekade terakhir. Namun, tantangan baru justru berada pada sesuatu yang tak kasatmata: kualitas manusianya.

Pesan itu disampaikan anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi PKB, Ida Fauziyah, dalam Coffee Morning DPRD DKI Jakarta di Gedung DPRD DKI Jakarta, Kamis, 30 Juli 2026. Forum yang mempertemukan pimpinan dan anggota DPRD, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Forkopimda, kalangan usaha, hingga wartawan tersebut menjadi ruang diskusi mengenai arah pembangunan Jakarta memasuki usia ke-500 tahun.

Menurut Ida, orientasi pembangunan ibu kota tidak lagi bisa bertumpu pada beton dan baja. Kota yang telah memiliki jaringan transportasi modern dan infrastruktur relatif lengkap membutuhkan investasi yang lebih besar pada sumber daya manusia.

“Infrastruktur menurut saya sudah selesai. Sekarang konsentrasinya pada pembangunan manusianya,” kata Ida.

Pandangan itu lahir dari keyakinan bahwa Jakarta pada masa depan tidak hanya membutuhkan gedung pencakar langit atau jalan yang semakin lebar, melainkan warga yang mampu mengelola dan memimpin kota dengan kapasitas yang lebih tinggi.

Ida mengatakan, salah satu pekerjaan rumah terbesar Pemerintah Provinsi DKI Jakarta adalah memperluas akses pendidikan bagi anak-anak berprestasi yang berasal dari keluarga kurang mampu. Kesempatan memperoleh beasiswa, termasuk pendidikan ke luar negeri, menurutnya harus semakin dibuka agar Jakarta memiliki generasi pemimpin yang lahir dari kompetensi, bukan semata-mata dari latar belakang ekonomi.

Ia juga mengapresiasi langkah pemerintah daerah yang mulai membebaskan biaya pendidikan di sejumlah sekolah swasta. Namun, menurutnya, kebijakan tersebut perlu diperluas agar manfaatnya dapat dirasakan lebih banyak masyarakat.

“Kesempatan buat anak-anak yang berprestasi dan tidak mampu itu harus diperbanyak. Jakarta nantinya harus diurus oleh sumber daya manusia Jakarta. Dan itu harus dipersiapkan dari sekolah, dari sekarang,” ujarnya.

Bagi Ida, pendidikan bukan sekadar program sosial, melainkan investasi jangka panjang yang menentukan daya saing Jakarta setelah tak lagi menyandang status ibu kota negara secara penuh. Kota ini harus menemukan identitas baru sebagai pusat ekonomi, jasa, pendidikan, dan inovasi nasional.

Selain pendidikan, sektor kesehatan dinilai memiliki peluang yang sama besarnya. Selama ini, ribuan warga Indonesia masih memilih menjalani pengobatan ke luar negeri, terutama ke Penang, Malaysia. Fenomena itu, menurut Ida, justru menunjukkan adanya ruang yang bisa diisi Jakarta.

Dengan infrastruktur yang sudah tersedia dan dukungan fasilitas perkotaan yang lengkap, Jakarta dinilai mampu berkembang menjadi pusat layanan kesehatan nasional dengan rumah sakit berstandar internasional.

“Jakarta bisa menawarkan diri menjadi pusat kesehatan yang memadai. Tidak hanya untuk masyarakat Jakarta, tetapi juga masyarakat Indonesia. Dengan segala kemudahan infrastrukturnya, Jakarta benar-benar bisa menjadi pilihan,” katanya.

Jika itu terwujud, manfaatnya tidak hanya dirasakan masyarakat yang memperoleh layanan kesehatan lebih baik, tetapi juga berdampak pada pertumbuhan ekonomi daerah melalui meningkatnya aktivitas jasa kesehatan.

Ida menegaskan, cita-cita menjadikan Jakarta sebagai kota berkelas dunia tidak dapat diwujudkan oleh satu institusi saja. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, DPRD, pemerintah pusat, dunia usaha, hingga masyarakat harus bergerak dalam irama yang sama.

Menurut dia, forum Coffee Morning DPRD menjadi contoh penting bagaimana komunikasi informal dapat memperkuat koordinasi antarlembaga dalam membahas berbagai isu strategis pembangunan kota.

“Diperlukan, karena membangun Jakarta tidak bisa. Jakarta harus dikeroyok bersama,” ujarnya.

Kolaborasi tersebut, kata Ida, harus melampaui batas kewenangan administratif. Sinergi antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat menjadi faktor penting agar kebijakan pembangunan berjalan selaras, terutama ketika Jakarta tengah bertransformasi setelah perpindahan ibu kota negara.

Ia optimistis, jika seluruh pemangku kepentingan memiliki visi yang sama, Jakarta tetap akan menjadi etalase Indonesia di mata dunia.

“Kalau semua mau bersinergi, saya kira yakin Jakarta benar-benar menjadi terdepan, kota terdepan di Indonesia. Dan bisa menjadi etalase kota di Indonesia,” tuturnya.

Memasuki usia lima abad, tantangan Jakarta tampaknya memang mulai bergeser. Bukan lagi soal membangun lebih banyak jalan atau gedung, melainkan memastikan setiap anak memiliki kesempatan belajar yang setara, setiap warga memperoleh layanan kesehatan berkualitas, dan setiap kebijakan diarahkan untuk menciptakan manusia yang mampu menjaga masa depan kota. Sebab, kota yang besar pada akhirnya bukan hanya diukur dari megahnya infrastruktur, melainkan dari kualitas manusia yang menghidupinya.

Related Articles

A new version of this app is available. Click here to update.