|  | 

Opini

Londo Ireng dan Politik yang Tak Pernah Sederhana

Oleh :

Andik Kuswanto, Koordinator Tenaga Ahli Fraksi PKB

Ada kalimat-kalimat politik yang selesai setelah tepuk tangan reda. Namun ada pula kalimat yang justru baru mulai bekerja setelah pidato berakhir. “Londo Ireng” adalah salah satunya.

Istilah yang dilontarkan Presiden Prabowo Subianto dalam peringatan Hari Lahir PKB itu bukan sekadar ungkapan spontan. Ia membawa sejarah panjang, ingatan kolektif, sekaligus lapisan makna yang tidak sederhana dalam politik Indonesia.

Secara harfiah, “Londo Ireng” merujuk pada “Belanda hitam”—sebutan historis bagi pribumi yang menjadi bagian dari pasukan kolonial Belanda. Namun dalam perkembangan wacana politik dan kebudayaan, istilah itu sering digunakan untuk menggambarkan mereka yang secara identitas adalah bagian dari bangsa sendiri, tetapi dianggap bekerja untuk kepentingan kekuatan lain. Di sinilah problem sekaligus daya tarik istilah tersebut.

Politik Indonesia memang penuh dengan istilah yang lahir dari sejarah, tetapi kemudian hidup kembali dalam konteks yang berbeda. Istilah lama dapat menemukan makna baru ketika digunakan dalam pertarungan politik kontemporer. Namun, setiap metafora politik selalu memiliki konsekuensi.

Ketika seorang presiden menggunakan istilah “Londo Ireng”, publik tentu tidak hanya mendengar sebuah ungkapan. Publik juga akan bertanya: siapa yang dimaksud? Siapa yang sedang ditunjuk? Dan atas dasar apa seseorang dianggap menjadi “Londo Ireng”?

Pertanyaan-pertanyaan itu penting karena politik modern tidak boleh berhenti pada permainan label.

Sejarah mengajarkan bahwa tuduhan sebagai “pengkhianat”, “antek asing”, atau “orang luar” adalah senjata politik yang sangat efektif. Ia mampu membangkitkan emosi, mengonsolidasikan pendukung, sekaligus menciptakan garis pemisah antara “kita” dan “mereka”.

Masalahnya, bangsa ini sudah terlalu sering mengalami politik yang membelah masyarakat berdasarkan siapa yang dianggap paling nasionalis.

Padahal, nasionalisme tidak selalu hadir dalam bentuk slogan. Ia bisa hadir dalam kebijakan yang memperkuat kedaulatan ekonomi, dalam keberanian menegakkan hukum, dalam keberpihakan kepada rakyat kecil, dan dalam kemampuan negara menjaga kepentingan nasional di tengah tekanan global.

Karena itu, ukuran seseorang sebagai “Londo Ireng” semestinya tidak ditentukan oleh perbedaan pilihan politik. Kritik terhadap pemerintah tidak otomatis berarti anti-Indonesia. Perbedaan pandangan tidak otomatis berarti pengkhianatan. Dan sikap kritis tidak boleh dengan mudah disamakan dengan keberpihakan kepada kepentingan asing. Demokrasi justru membutuhkan perbedaan.

Yang harus dilawan bukan perbedaan pendapat, melainkan praktik politik yang benar-benar menggadaikan kepentingan publik. Bukan kritik, melainkan korupsi. Bukan oposisi, melainkan manipulasi kekuasaan. Bukan perbedaan pilihan, melainkan tindakan yang secara nyata merugikan kepentingan bangsa.

Di titik ini, istilah “Londo Ireng” sebaiknya tidak berhenti sebagai retorika politik. Ia harus menjadi pertanyaan yang diarahkan kepada semua pihak—termasuk kepada kekuasaan sendiri.

Sebab sejarah politik Indonesia menunjukkan bahwa “Londo Ireng” tidak selalu berada di seberang kekuasaan. Kadang ia justru berada sangat dekat dengan pusat kekuasaan. Bahkan, dalam banyak kasus, ia dapat muncul dalam bentuk yang paling nasionalistis: berbicara tentang kepentingan bangsa, tetapi diam-diam mengutamakan kepentingan kelompok.

Maka, persoalannya bukan semata-mata siapa yang disebut “Londo Ireng”.

Persoalan yang lebih penting adalah: siapa yang benar-benar bekerja untuk kepentingan rakyat, dan siapa yang hanya menggunakan nasionalisme sebagai kostum politik? Di situlah publik harus berhati-hati.

Jangan sampai “Londo Ireng” menjadi sekadar label untuk membungkam kritik. Jangan pula istilah itu berubah menjadi alat untuk membangun musuh politik. Sebab ketika politik terlalu mudah membagi masyarakat menjadi “nasionalis” dan “tidak nasionalis”, demokrasi akan kehilangan ruang untuk berdialog.

 

Pada akhirnya, bangsa ini tidak membutuhkan politik yang sibuk mencari siapa yang paling Indonesia.

Bangsa ini membutuhkan politik yang bisa membuktikan siapa yang paling sungguh-sungguh bekerja untuk Indonesia.

Sebab seorang “Londo Ireng” tidak ditentukan oleh warna kulit, asal-usul, atau pilihan politiknya. Ia ditentukan oleh keberpihakannya.

Dan dalam politik, keberpihakan selalu lebih penting daripada slogan.

Related Articles

A new version of this app is available. Click here to update.