Penyesuaian Anggaran MBG 2026, Komisi IX : Nutrisi dan Gizi Makanan Harus Tetap Dijaga

JAKARTA – Anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi PKB Asep Romy Romaya memberikan catatan strategis terhadap rencana pemotongan anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) tahun 2026 menjadi Rp268 triliun dari pagu awal sebesar Rp 335 triliun. Langkah efisiensi yang diumumkan oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa ini diharapkan tidak mengorbankan kualitas dan nutrisi serta target sasaran pemenuhan gizi para peserta didik di seluruh Indonesia.
"Kami di Komisi IX memahami langkah efisiensi dan perbaikan tata kelola yang tengah dilakukan oleh Pemerintah. Namun, harus menjadi perhatian bersama dan memastikan bahwa penghematan ini murni lahir dari pemangkasan biaya-biaya teknis seperti halnya biaya distribusi, biaya dukungan manajemen maupun biaya manajemen operasional, bukan berhubungan dengan porsi anggaran biaya bahan baku pangan, kualitas makanan yang akan di distribusikan tetap harus memenuhi kebutuhan nutrisi dan gizi bagi seluruh penerima manfaat, Itu batasan mutlaknya," ujar Asep Romy Romaya, Rabu (20/5/2026).
Dia menjelaskan efisiensi sebesar Rp 67 triliun ini harus disikapi secara bijak oleh Badan Gizi Nasional (BGN). Menurutnya, pengurangan alokasi dana tidak boleh berujung pada penurunan mutu, nutrisi, protein, maupun standar higienitas makanan yang diterima oleh anak-anak sekolah. “Efisiensi anggaran ini harus jadi momentum perbaikan manajamen, bukan berdampak pada pengurangan anggaran bahan baku pangan yang akhirnya berpengaruh pada standar kualitas nutrisi dan gizi makanan yang diberikan kepada penerima MBG,” ujarnya.
Lebih lanjut Asep romy mendorong agar kehadiran koperasi desa merah putih (KDMP) dapat memotong rantai pasok yang panjang dengan membeli langsung komoditas pangan dari umkm, peternak, petani, dan nelayan lokal di sekitar SPPG. “Langkah ini akan menekan biaya logistik dan distribusi operasional dapur ditengah rencana efisiensi anggaran program MBG sekaligus mengerakkan ekonomi lokal,” katanya.
Legislator dari Jawa Barat ini meminta BGN rutin membuka ruang evaluasi berkala dengan pihak sekolah, komite orang tua, ahli gizi, maupun perangkat desa di daerah untuk memantau efektivitas pelaksanaan program di lapangan pasca penyesuaian anggaran ini. "Program Makan Bergizi Gratis adalah investasi jangka panjang untuk generasi emas Indonesia. Kita mendukung perbaikan manajemen belanja yang sedang dihitung oleh Presiden. Melalui tata kelola yang bersih dan efisien, kita optimis target swasembada untuk gizi anak bangsa tetap tercapai dengan postur anggaran yang lebih sehat dan efisien," pungkasnya.
Penulis : Nono Suwarno


