|  | 

Berita Nasional

Siswa SD di NTT Bunuh Diri, Komisi X Desak Pendidikan Kawasan 3T Jadi Prioritas Nasional

JAKARTA – Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Habib Syarief Muhammad, mendesak Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk menjadikan pendidikan di kawasan Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) sebagai skala prioritas nasional. Hal ini menyusul tragedi meninggalnya seorang siswa SD berusia 10 tahun di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang diduga bunuh diri akibat keterbatasan ekonomi keluarga untuk membeli buku dan alat tulis.

“Ini peristiwa yang membuat bangsa prihatin. Program pemenuhan kebutuhan dasar seperti buku dan alat tulis harus disiapkan secara sistematis. Pemerintah wajib memiliki peta pendidikan yang akurat dan pendataan utuh terkait kebutuhan riil di kawasan 3T,” ujar Habib Syarief di Jakarta, Kamis (5/2/2026).

Habib Syarief menilai peristiwa tersebut merupakan potret buram pendidikan Indonesia sekaligus bukti rapuhnya perlindungan negara terhadap anak-anak di wilayah pelosok. Ia meminta pemerintah tidak hanya memberikan pelayanan biasa, melainkan penanganan khusus dan darurat untuk wilayah 3T.

Legislator PKB asal Jawa Barat ini memaparkan kompleksitas masalah pendidikan di wilayah tersebut, mulai dari akses geografis yang berat, kemiskinan struktural, hingga minimnya fasilitas fisik sekolah. Ia menyoroti masih banyaknya sekolah di NTT yang kondisinya rusak parah bahkan ambruk, namun tetap dipaksakan untuk kegiatan belajar mengajar.

Selain infrastruktur, Habib juga menyoroti krisis tenaga pendidik di daerah 3T. Menurutnya, banyak guru tidak bertahan lama karena tantangan hidup yang berat dan minimnya insentif tambahan.

“Banyak guru hanya bertahan dua sampai tiga tahun. Tidak ada tunjangan khusus sebagaimana profesi lain. Kondisi ini jelas berdampak pada kualitas dan keberlanjutan pendidikan anak-anak kita di sana,” tegasnya.

Habib Syarief juga mengingatkan pemerintah untuk konsisten menjalankan mandatory spending pendidikan sebesar 20 persen dari APBN dan APBD. Ia menilai, selama anggaran tersebut tidak dialokasikan secara konsekuen, kebijakan pendidikan akan terus bersifat tambal sulam dan tidak menyentuh akar masalah di daerah terpencil.

“Ketidakkonsistenan anggaran membuat pendidikan kita tidak merata. Harus ada komitmen bersama antara pusat dan daerah agar kebutuhan dasar anak untuk belajar terpenuhi di seluruh pelosok negeri. Jangan sampai ada lagi anak yang kehilangan nyawa karena persoalan alat tulis,” pungkas Habib Syarief.

Penulis : Rach Alida Bahaweres

Related Articles

A new version of this app is available. Click here to update.