|  | 

Berita Nasional

Sambut Baik Investasi Danantara Rp20 Triliun, BGN: Dukungan Nyata untuk MBG 

JAKARTA — Badan Gizi Nasional (BGN) menyambut baik rencana Danantara untuk mengucurkan dana sebesar Rp20 triliun bagi para peternak ayam di Indonesia. Direktur Kerja Sama dan Kemitraan BGN, Muhammad Risal, menilai langkah tersebut menjadi angin segar bagi penguatan rantai pasok pangan nasional, terutama dalam mendukung kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Risal juga mengapresiasi Fraksi PKB DPR RI yang dinilai mampu bergerak cepat dan adaptif merespons isu aktual. Baru beberapa hari isu ini mencuat, PKB langsung membahasnya. Ini menunjukkan kepekaan dan kecepatan legislatif dalam mengawal sektor pangan. "Dukungan pembiayaan untuk peternak ayam akan memberikan dampak positif terhadap pemenuhan bahan pangan program MBG. Telur dan daging ayam adalah komponen penting dalam pemenuhan gizi masyarakat. Karena itu, rencana Danantara ini sangat strategis bagi keberlanjutan MBG,” ujarnya dalam Diskusi Publik Fraksi PKB bertajuk Danantara Kucurkan Anggaran Rp20 Trilun untuk Penguatan Peternak Lokal : Kebangkitan Industri Perunggasan Nasional?, di Kompleks Parlemen, Kamis (27/11/2025).

Selain Muhammad Risal, hadir sebagai narasumber Anggota Komisi IV DPR RI Jaelani, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan Agung Suganda, dan Praktisi Industri Unggas Eko Putro Sandjojo. Lalu hadir juga Sekjen Gabungan Asosiasi Peternakan Ayam Nasional Sugeng Wahyudi, dan akademisi IPB Prof Dwi Andreas Santoso.

Risal menegaskan bahwa Indonesia memang bukan negara pertama yang menjalankan program makan bergizi gratis, namun kontribusi publik menjadikan Indonesia sebagai salah satu yang terbaik. “Banyak negara kini menjadikan Indonesia sebagai rujukan. Rahasianya ada pada partisipasi aktif masyarakat. Ini patut kita syukuri,” tambahnya.

Ia mengungkapkan bahwa tanpa menggunakan anggaran sepeser pun, BGN telah berhasil memfasilitasi berdirinya 16.000 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di seluruh Indonesia. Ini hasil kolaborasi masyarakat. SPPG tumbuh karena kebutuhan dan semangat gotong royong.

Terkait penentuan mitra, Risal menegaskan bahwa BGN mengedepankan prinsip inklusivitas. Pihaknya tidak melihat status, latar belakang, atau afiliasi. Ada pengusaha kecil, besar, dari berbagai kelompok. Yang penting memenuhi persyaratan.

Mengenai potensi penyalahgunaan dana, Risal menegaskan bahwa BGN menerapkan prinsip transparansi secara ketat. BGN sangat transparan dalam penggunaan anggaran. Dengan sistem yang terbuka, risiko penyelewengan bisa ditekan serendah mungkin.

Risal juga menjelaskan bahwa kehadiran program MBG turut menciptakan pasar baru dengan permintaan yang stabil. Dengan berkembangnya SPPG, muncul permintaan baru dari masyarakat. Ini mendorong produktivitas petani, peternak, hingga industri pangan.

Menjawab alasan dibentuknya program MBG, Risal menyoroti kondisi kemiskinan yang masih menjadi tantangan nasional. Jumlah warga miskin mencapai 4,78 persen, sementara kelompok masyarakat kelas atas hanya 2,84 persen. Pemerintah perlu turun tangan memastikan akses gizi yang memadai bagi seluruh anak bangsa. “Ketika gizi anak terpenuhi, mereka tumbuh sehat, cerdas, dan produktif. Inilah fondasi menuju Indonesia sebagai negara maju,” pungkas Risal.

Penulis : Khafidlul Ulum

Related Articles

A new version of this app is available. Click here to update.