|  | 

Opini

“Ruang Gelap” Sekitar Aksi Bela Islam

Sekretaris FPKB DPR RI, Jazilul Fawaid Sebagai Narasumber Diskusi RUU Jasa Konstruksi di Pressroom DPR RI, Jakarta, Selasa (31/3)
JUMAT, 2 Desember 2016, kita sama-sama mendapatkan kabar akan diagendakan Aksi Superdamai 212 di sekitar Monas dan Bundaran HI. Berdasarkan informasi yang saya dengar, massa aksi yang akan hadir diperkirakan mencapai 1 juta orang. Aksi ini merupakan kelanjutan dari gerakan 411 yang menuntut proses hukum terhadap Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Menjelang pelaksanaan aksi 212, beredar berbagai macam isu yang membuat saya gundah dan publik juga resah. Informasi datang silih berganti setiap detik, setiap menit, baik melalui media massa maupun media sosial.

Saya hendak menyebut beberapa contoh saja. Pertama, beberapa waktu lalu ada isu makar yang akan dilakukan oleh para pengunjuk rasa dalam Aksi Damai II atau bahkan III. Isu ini muncul dari pernyataan Kapolri yang kemudian menjadi perbincangan luas di masyarakat.

Dalam menanggapi isu ini, Presiden Ke-6 RI Sulilo Bambang Yudhoyono (2016) dalam artikelnya, Pulihkan Kedamaian dan Persatuan,  juga menyinggung isu tersebut. Tak pelak kita dibuat waswas dan cenderung khawatir jika hal itu benar adanya.

Kedua, kabar mengenai Presiden Jokowi melindungi Ahok dalam proses hukum kasus penistaan agama. Isu ini kemudian secara tegas diklarifikasi oleh Presiden Jokowi. Dalam berbagai kesempatan, Presiden berkali-kali menjelaskan bahwa dirinya tidak akan mengintervensi hukum atas kasus penistaan agama.

Ketiga, muncul kabar bahwa SBY membiayai aksi 411. Meskipun isu ini sudah dibantah oleh SBY di berbagai tempat, tetap saja isu ini terus berkembang di media sosial disertai dengan caci maki dan umpatan dari berbagai kelompok yang pro dan kontra.

Isu-isu inilah yang saya sebut sebagai ”ruang gelap”. Pada kondisi ini, sulit sekali memverifikasi kebenaran. Titik terang hanya bisa ditemukan jika kita keluar dan meninggalkan ”ruang gelap” tersebut serta memasuki ruang yang lebih terang. Pada kondisi ini kiranya sangat relevan ungkapan SBY, ”in  crucial thing unity ”. Kita mesti bersatu jika menghadapi sesuatu yang penting.

Mengedepankan Sikap Tabayun 
Akhir-akhir ini kita telah memasuki apa yang diramalkan oleh Jean Couteu (2015) sebagai era ”tsunami informasi”. Informasi datang silih berganti setiap detik, setiap menit. Jika dulu banyak yang mengatakan bahwa orang pintar dan berwawasan adalah orang yang menguasai informasi, cara pandang seperti itu hari ini telah bergeser secara frontal dan terbalik bahwa manusia-manusia sekarang sudah terlampau dikuasai oleh informasi sehingga mudah terombang-ambing dan diperlakukan sesuai tujuan informasi tersebut dibuat.

Portal-portal berita yang tidak jelas pengelola dan rekam jejaknya berseliweran menyajikan berita-berita yang cenderung konfrontatif dan mengabaikan kevalidan berita. Alquran sudah sejak lama memberi semacam warning  kepada kita agar tidak mudah terombang-ambing kabar burung yang tidak jelas sumbernya.

 

Jazilul Fawaid
Anggota Fraksi PKB DPR RI
Koordinator Nusantara Mengaji

Diterbitkan di Koran Sindo pada Kamis,  1/12/2016

Related Articles

Kata Mutiara

“Keberhasilan seorang pemimpin diukur dari kemampuan mereka dalam menyejahterakan umat yang mereka pimpin” --- Gusdur