Taufiq R Abdullah: Indonesia Darurat Narkoba, Generasi Muda Harus Jadi Garda Terdepan

KEBUMEN- Anggota DPR RI Taufiq R Abdullah mengingatkan ancaman peredaran narkoba yang dinilainya semakin serius dan dapat mengancam masa depan generasi muda Indonesia. Hal itu disampaikan Taufiq saat menghadiri Seminar Merajut Nusantara bertema “Media Sosial sebagai Gerakan Anti Narkoba” bersama pelajar dan mahasiswa di Aula IAINU Kebumen, Senin (5/10/2026).
Taufiq mengatakan, persoalan narkoba tidak hanya menjadi masalah hukum, tetapi juga berpotensi menjadi bencana kemanusiaan apabila peredarannya tidak dikendalikan. “Maka sesungguhnya ada bencana lain yang harus diantisipasi, yaitu bencana kemanusiaan yang sangat mungkin terjadi akibat dari peredaran narkoba yang tidak terkendali,” kata Taufiq.
Menurutnya, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian seluruh komponen bangsa. Ia menyebut persoalan narkoba sudah berada pada kondisi yang memerlukan perhatian serius, terutama karena generasi muda menjadi salah satu kelompok yang menjadi sasaran peredaran. “Ini sudah darurat narkoba menurut saya. Semua komponen bangsa harus care. Semua unsur pemerintah, unsur masyarakat harus care. Narkoba sudah mengancam masa depan bangsa, masa depan generasi muda,” ujarnya.
Taufiq mengatakan, sosialisasi mengenai bahaya narkoba terus dilakukannya di sejumlah daerah, termasuk Purbalingga, Banjarnegara, dan Kebumen. Sasaran utamanya adalah generasi muda, mulai dari pelajar hingga organisasi kepemudaan.
Ia berharap para pelajar dan mahasiswa tidak hanya menjadi pihak yang menjauhi narkoba, tetapi juga ikut menjadi kader yang aktif menyuarakan penolakan terhadap peredaran barang terlarang tersebut. “Saya kumpulkan anak-anak muda ini bukan saja meminta mereka menjauhi narkoba, tetapi saya berharap mereka menjadi kader-kader yang juga terlibat secara aktif untuk melakukan pemberantasan dan penolakan terhadap narkoba,” katanya.
Taufiq juga menyoroti pentingnya memperkuat pencegahan dari sisi hulu. Menurut dia, penanganan narkoba tidak boleh hanya berfokus pada pengguna atau peredaran di tingkat bawah. “Bukan saja di hilirnya. Kita capek banting tulang, energi habis bekerja di level hilir, sementara di hulunya barang-barang narkoba itu masuk dengan luar biasa,” ujarnya.
Ia mencontohkan pengungkapan narkoba dalam jumlah besar oleh aparat di wilayah perairan Indonesia. Menurutnya, upaya menghadang masuknya narkoba dari hulu harus diperkuat agar beban penanganan di tingkat masyarakat tidak semakin berat. Dalam seminar tersebut, Taufiq juga mengaitkan kampanye antinarkoba dengan perkembangan media sosial dan dunia digital. Menurut dia, ruang digital dapat menjadi salah satu sarana penyebaran narkoba yang perlu diwaspadai. Karena itu, generasi muda didorong tidak hanya menjadi pengguna media sosial, tetapi juga aktif menciptakan konten positif.
“Kenapa ini dikaitkan dengan media sosial, karena media sosial atau online, dunia digital itu adalah salah satu media penyebaran narkoba yang harus dihadang, harus dihindari,” katanya.
Ia mengajak pelajar dan mahasiswa membanjiri ruang digital dengan informasi edukatif dan kampanye positif tentang bahaya narkoba. “Bagaimana caranya? Tentu para generasi muda ini bagaimana membanjiri, menyesaki dunia online ini dengan konten-konten yang positif,” ujarnya. Menurut Taufiq, semakin banyak konten positif yang diproduksi dan disebarkan generasi muda, ruang digital diharapkan semakin kuat menjadi sarana edukasi dan pencegahan narkoba. “Artinya kalau kita semua bekerja pada tataran itu, maka peredaran narkoba juga akan terdesak karena banjirnya informasi yang positif,” pungkasnya.


