Chusnunia : Sampah Sisa Makanan Hambat Pariwisata Berkelanjutan

JAKARTA-Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Chusnunia menyoroti persoalan sampah sisa makanan di daerah wisata yang semakin mengkhawatirkan. Hal tersebut disampaikannya saat rapat bersama Menteri Pariwisata, Senin (31/8).
Chusnunia mencontohkan persoalan sampah di Labuan Bajo sebagai salah satu destinasi wisata favorit di Indonesia, menyimpan ancaman yang jarang dibicarakan: meningkatnya timbulan sisa pangan dan sampah makanan (food waste).
“Tanpa pengelolaan yang efektif, persoalan sampah makanan yang terus meningkat di Labuan Bajo berpotensi mengancam lingkungan setempat dan daya tarik wisata daerah tersebut,”ujarnya.
Menurutnya limbah makanan merupakan masalah lingkungan yang semakin meningkat, terutama di daerah yang bergantung pada pariwisata perlu mendapatkan perhatian dan juga penanganan serius.
“Jangan sampai justru persoalan sampah ini menjadi kendala dalam mewujudkan pariwisata berkelanjutan,saya kira hal ini perlu menjadi perhatian tersendiri,” ungkapnya.
Lebih lanjut politisi asal Lampung ini menjelaskan bahwa persoalan sampah makanan sendiri merupakan salah satu tantangan terbesar dalam mewujudkan pariwisata berkelanjutan karena berdampak langsung pada kelestarian lingkungan, stabilitas ekonomi, dan keadilan sosial.
“Sektor pariwisata, khususnya industri perhotelan dan restoran (food and beverage), menyumbang volume sampah organik yang masif dari sisa hidangan wisatawan maupun kesalahan manajemen dapur,” jelasnya.
Ia juga mendorong pemerintah untuk mempelajari berbagai strategi manajemen makanan yang berkelanjutan dan inisiatif yang sudah dicoba beberapa negara seperti di Thailand ada yang berbasis aktivitas (menu engineering) mampu mengurangi hingga 45% food waste .
Studi World Resources Institute (WRI) Indonesia memperkirakan bahwa Labuan Bajo, yang mencakup empat desa, menghasilkan sekitar 4.836 ton sampah makanan pada tahun 2024. Menariknya, sumber sampah non rumah tangga menyumbang porsi yang lebih besar, yaitu 52%, sementara sampah rumah tangga menyumbang 48%.


