Ketua PBNU : NU Harus Rebut Hati Anak Muda Perkotaan

JAKARTA – Ketua PBNU Hasanuddin Ali menilai Nahdlatul Ulama (NU) perlu mengubah pendekatan dalam merangkul generasi muda, masyarakat perkotaan, kaum profesional, hingga kelompok kelas menengah. Menurutnya, karakter warga NU saat ini telah banyak berubah dibanding sebelumnya.
Hal itu disampaikan Hasanuddin dalam Serial Diskusi Muktamar ke-35 NU bertema 'Stop Politik Transaksional di Muktamar NU' di Resto Trisnoku, Jakarta, Selasa (18/8/2026). Hasanuddin mengatakan selama ini seseorang menjadi warga NU umumnya melalui tiga jalur, yakni warisan keluarga, pendidikan, dan lingkungan. Namun pola tersebut dinilai tak lagi sepenuhnya relevan bagi generasi muda kelahiran 1990-an yang tumbuh di lingkungan perkotaan.
"Dulu seseorang menjadi NU karena diwariskan orang tua, mendapatkan pendidikan NU, atau karena lingkungan. Tetapi bagi anak-anak muda sekarang, mereka membutuhkan alasan yang riil mengapa mereka perlu menjadi NU," kata Hasanuddin.
Founder Alvara Research itu menyebut kondisi tersebut semakin terasa di wilayah perkotaan. Karena itu, kata dia, NU perlu memperluas pendekatan agar tak hanya mengandalkan basis tradisional, tetapi juga mampu hadir di ruang-ruang kehidupan generasi muda kota. "Anak muda dan perkotaan harus menjadi address utama dalam program-program NU," ujarnya.
Selain soal generasi muda, Hasanuddin juga menyoroti perubahan tingkat pendidikan warga NU. Ia menyebut kini semakin banyak warga NU yang berprofesi sebagai teknokrat, profesional, ahli teknologi informasi, akademisi, hingga pekerja di berbagai sektor modern. Menurutnya, kelompok ini merupakan bagian penting bagi masa depan NU, namun belum seluruhnya mendapat ruang dan perhatian memadai dalam ekosistem organisasi.
Hasanuddin turut menyoroti perubahan pada kelompok kelas menengah di kalangan warga NU. Ia menilai telah terjadi mobilitas sosial-ekonomi yang signifikan dalam satu dekade terakhir.
"Dulu ketika pelaksanaan muktamar, yang membawa mobil mungkin hanya sedikit. Sekarang banyak yang datang dengan mobil bagus. Ini menunjukkan perkembangan warga NU di kelompok kelas menengah yang luar biasa," katanya.
Ia menambahkan, NU juga perlu memperluas ruang bagi perempuan agar keterlibatan mereka dalam organisasi semakin kuat.
Hasanuddin berharap Muktamar NU di abad kedua dapat melahirkan keputusan yang menjawab perubahan tersebut. "NU di abad kedua tidak sama dengan NU pada abad pertama. Karena itu, pendekatan kepada warga NU juga harus menyesuaikan perubahan zaman," pungkasnya.
Penulis : Rach Alida Bahaweres


