|  | 

Berita Nasional

Ketua PBNU : NU Abad Kedua Butuh Pemimpin Bervisi dan Mampu Eksekusi

JAKARTA — Ketua PBNU Hasanuddin Ali menyebut Nahdlatul Ulama (NU) membutuhkan sosok pemimpin yang mampu membaca perubahan Indonesia dan menerjemahkannya menjadi gagasan serta tindakan konkret. Muktamar ke-35 NU di Jombang, 27-31 Agustus 2026 menjadi momentum strategis untuk menghasilkan kepemimpinan terbaik.

"Pertama, dia bukan hanya orang yang memahami persoalan, tetapi juga memiliki kegelisahan melihat masa depan NU dan Indonesia," kata Hasanuddin, dalam Diskusi bertajuk Stop Politik Transaksional di Muktamar NU, di Resto Trisnoku, Cikini, Jakarta, Selasa (18/8/2026).

Founder Alvara Research ini mengatakan, ada tiga kriteria utama yang harus dimiliki calon pemimpin NU ke depan. Pertama, kepekaan terhadap persoalan sekaligus kegelisahan atas masa depan organisasi dan bangsa. Kedua, memiliki visi dan gagasan untuk menjawab perubahan zaman tanpa mengabaikan tradisi. Ketiga, kemampuan mengonsolidasikan seluruh sumber daya NU, baik sumber daya manusia maupun sumber daya lainnya.

"Saya tidak mengatakan bahwa tradisi tidak penting. Tetapi jauh lebih penting bagi NU untuk memiliki gagasan dalam menjawab perubahan ke depan," ujarnya.

Hasanuddin menegaskan pemimpin NU tidak cukup hanya pandai melahirkan gagasan, tetapi juga harus mampu mewujudkannya. "Bukan hanya man of ideas, tetapi juga man of execution," tegasnya.

Dia menjelaskan, tantangan NU semakin kompleks seiring perubahan basis sosial organisasi. NU yang selama ini kuat di kalangan pedesaan, kelompok menengah ke bawah, dan masyarakat berpendidikan relatif rendah kini berhadapan dengan Indonesia yang bergerak menuju masyarakat perkotaan, berpendidikan lebih tinggi, dan berkelas menengah lebih besar.

Sebagai anggota Komisi Program dalam Muktamar ke-25 NU, Hasanuddin mengungkapkan ada roadmap NU untuk 25 tahun ke depan yang akan dibahas dalam muktamar mendatang. Roadmap tersebut memuat lima agenda utama: anak muda, masyarakat perkotaan, peningkatan kualitas pendidikan warga NU, pertumbuhan kelas menengah, dan perluasan ruang serta akses bagi perempuan.

"Di muktamar mendatang, saya menjadi salah satu penyusun roadmap NU untuk 25 tahun ke depan. Kita akan mencoba menjawab semua isu tersebut," katanya.

Hasanuddin mengaku pesimistis jika NU tidak segera beradaptasi dengan perubahan struktur sosial masyarakat Indonesia. Namun ia menilai kondisi itu dapat menjadi momentum bagi NU untuk memperbarui strategi organisasi tanpa meninggalkan tradisi.

"NU di abad kedua tidak sama dengan NU pada abad pertama. Karena itu, siapa pun ketua yang terpilih harus memahami perubahan, memiliki visi dan gagasan, serta mampu mengeksekusinya," pungkas Hasanuddin.

Penulis : Rach Alida Bahaweres

Related Articles

A new version of this app is available. Click here to update.