|  | 

Berita Nasional

Chusnunia : Evaluasi Kebijakan Bebas Visa dan Perkuat Kemudahan Akses Bagi Wisman

JAKARTA-Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Chusnunia menilai bahwa kebijakan bebas visa harus dievaluasi dan lebih selektif agar berdampak pada peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara.

Sebelumnya Direktur Jenderal Imigrasi Hendarsam Marantoko menyebut bahwa kebijakan bebas visa bukan faktor utama yang menentukan banyaknya turis mancanegara datang ke Tanah Air. Hendarsam memaparkan bahwa saat Indonesia menerapkan bebas visa untuk 169 negara pada 2019, jumlah kunjungan tercatat 12,4 juta. Sementara pada 2025, ketika kebijakan diperketat menjadi hanya 17 negara bebas visa, jumlah kunjungan justru naik menjadi 14,3 juta.⁠

Merespons hal tersebut Chusnunia mengatakan bahwa bukan kebijakan bebas visa yang salah tapi bagaimana kedepan lebih selektif dalam pemberian kebijakan bebas visa.

“Apa yang dijelaskan Pak Dirjen tidak salah karena berbasis data meski demikian point utamanya bukan pada menghapus kebijakan bebas visanya tapi lebih selektif pada negara-negara mana yang menjadi asal wisatawan yang terkait dengan kebijakan bebas visa,”ujarnya.

Ia juga menambahkan dari data kunjungan wisatawan mancanegara tersebut kita bisa menseleksi mana wisatawan yang datang terkait dengan kebijakan bebas visa.

Meski demikian politisi yang akrab disapa Nunik tersebut sependapat bahwasanya selain persoalan bebas visa wisatawan asing lebih mempertimbangkan kemudahan layanan, digitalisasi, dan treatment selama berada di Indonesia dibanding kebijakan bebas visa.

“Kita harus terus mendorong pergeseran strategi pariwisata dari sekadar mengejar jumlah kunjungan (mass tourism) menjadi fokus pada kualitas, pengalaman, keberlanjutan lingkungan, dan dampak ekonomi yang lebih besar,”tambahnya.

Menurutnya paradigma ini menekankan pada keamanan, kenyamanan, serta kepuasan wisatawan. Terlebih Pemerintah sendiri telah mencanangkan fondasi besar terhadap pengembangan pariwisata berkualitas dan berkelanjutan merujuk pada Rencana Jangka Panjang Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029.

“Quality tourism ini bukan hanya tentang jumlah kunjungan, tetapi bagaimana daya saing destinasi yang kita miliki dapat memberikan pengalaman yang unik, bernilai tinggi, berkelanjutan dan yang juga tidak kalah penting adalah berdampak pada perekonomian masyarakat,” pungkasnya.

Related Articles

A new version of this app is available. Click here to update.