|  | 

Berita Nasional

Diskusi Prabowonomics: Pakar Usulkan Tujuh Rekomendasi Kebijakan

JAKARTA, - Negara Indonesia memiliki kekayaan alam serta sumber daya manusia yang melimpah. Namun, tanpa peningkatan skill, kemajuan teknologi serta perubahan mindset untuk lebih maju, maka industrialisasi Indonesia tidak bisa memberikan dampak pada pertumbuhan ekonomi.

Hal tersebut menjadi pembahasan dalam diskusi publik bertajuk "Industrialisasi, Bursa Komoditas Strategis, dan Prabowonomics.

Prof. Chandra Wijaya mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi ditentukan oleh kemajuan industrialisasi, komoditas serta peran negara. Ia pun menggunakan istilah prabowonomics sebagai kerangka analisis dalam menyusun kedaulatan SDA, industrialisasi, peran negara dan pemerataan.

Chandra dalam paparannya mengusulkan tujuh rekomendasi kebijakan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional. Pertama, satukan peta jalan industri, perdagangan, investasi.

Kedua, jelasnya, rekonsiliasi data transaksi dari kontrak hingga pembayaran. Ketiga, buka metodologi harga wajar dengan penyesuaian mutu, logistik dan kontrak.

Keempat, bangun bursa bertahap sesuai kesiapan komoditas dan peserta. Kelima, jaga kepastian dan keadilan yakni kontrak jelas serta proses keberatan adil.

"Keenam, perluas manfaat lokal mulai keterampilan, pemasok lokal dan usaha kecil dan ketujuh ukur manfaat lebih yakni bedakan potensi, hasil verifikasi dan realisasi," tuturnya.

Ia menambahkan, kedaulatan ekonomi harus menghasilkan kemampuan industri dan perdagangan yang dapat dipercaya serta memberikan manfaat yang dirasakan oleh rakyat.

"Keberhasilan kebijakan komoditas perlu terlihat pada nilai tambah yang tercipta, kewajiban yang dipenuhi serta peningkatan kesejahteraan masyarakat," kata Chandra.

Sementara itu, Ekonom Prof. Dr. Didik J. Rachbini menegaskan, industri tanah air saat ini hanya tumbuh di angka 4,5 persen. Ia mengungkapkan, dengan kemajuan industri di angka tersebut maka pertumbuhan ekonomi Indonesia sulit diatas angka 5 persen.

"Saya berharap kalau bisa mencapai pertumbuhan (ekonomi) 6%, industrinya 9% baru itu bisa. Kalau 4,5% tidak bisa," ujarnya.

Hal yang sama disampaikan Ekonom Poltak Hotradero. Menurutnya, Indonesia harus melakukan cara berbeda dalam pengolahan sumber daya alam (SDA). Menurutnya, selain SDM berkualitas dan kemajuan teknologi, maka perlu nilai tambah yang bisa memberi manfaat pada pertumbuhan ekonomi.

"Pengolahan SDA butuh SDM yang berkualitas. Untuk dapat menopang pertumbuhan ekonomi di masa depan maka perlu serius mengembangkan potensi SDA ke tingkat lebih lanjut yakni nilai tambah," tukas Poltak.

Untuk itu, dari paparannya terkait pertumbuhan ekonomi nasional dan bursa komoditas strategis, Poltak menegaskan harus dilakukan dengan cara baru yang berbeda dari sebelumnya. Ia menyebut, kekayaan alam Indonesia sangat melimpah kalau tidak memberikan kemakmuran bagi masyarakat.

"Kita perlu mindset yang berbeda. Kalau kita ingin hasil berbeda, maka mindset kita, cara berpikir kita harus berbeda. Mudah-mudahan perbedaan yang positif itu yang membawa kemakmuran bagi kita," tambahnya.

Related Articles

A new version of this app is available. Click here to update.