Eva Monalisa : Tumpang Tindih Regulasi Jadi Tantangan Perkembangan Film Indonesia

JAKARTA – Anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Eva Monalisa menilai industri film Indonesia masih menghadapai sejumlah tantangan serius. Salah satunya adanya tumpang tindih regulasi yang memicu ketidakpastian hukum.
“Potensi industri film Indonesia sangat besar, namun sejauh ini belum optimal. Masih banyak tantangan yang dihadapi mulai dari keterbatasan pendanaan, distribusi yang belum merata, hingga tumpang tindih regulasi antara Lembaga Sensor Film dan Komisi Penyiaran Indonesia,” ujar Eva Monalisa saat Rapat Kerja dengan Menteri Ekonomi Kreatif di Gedung DPR, Kamis (6/11/2025).
Dia menjelaskan sebagai industri kreatif film Indonesia mulai menunjukkan kebangkitan. Baik dari volume produksi maupun jumlah penonton. Hanya saja masih banyak tantangan agar film Indonesia mampu bersaing dengan pusat-pusat produksi film internasional seperti Hollywood, Bollywood, hingga Korea Selatan. “Harus diakui industri film Indonesia masih tertinggal dari beberapa pusat industri film internasional. Film maupun series kita masih tertinggal dari produksi dari Korea maupun Hollywood. Ini harus diperbaiki di kemudian hari,” katanya.
Eva secara khusus menyoroti peran LSF maupun KPI yang kerap bertabrakan. Menurutnya fenomena membuat banyak production house yang merugi karena keterlambatan tayang. “Film yang telah disetujui oleh LSF kerap kembali disunting oleh KPI ketika ditayangkan di televisi. Kondisi ini menimbulkan ketidakpastian hukum dan menghambat kreativitas sineas nasional,” ungkapnya.
Legislator asal Jawa Tengah ini mendesak agar Kementerian Ekonomi Kreatif memberikan atensi khusus untuk mendukung perkembangan industri film di tanah air. Menurutnya film dewasa ini tidak hanya sekadar komoditas ekonomi tetapi juga medium diplomasi Indonesia di kancah internasional. “Kita pernah memiliki kisah heroik seperti Peristiwa Woyla tahun 1981 yakni adanya pembajakan pesawat Garuda Indonesia di Bangkok yang berhasil ditangani secara berani oleh pasukan Kopassandha. Kisah seperti ini layak diangkat ke layar lebar sebagai film nasional yang menumbuhkan semangat patriotisme dan kebanggaan terhadap sejarah bangsa,” ungkap Eva.


