|  | 

Opini

Ancaman Deindustrialisasi Dan Defisit Neraca Perdagangan Terhadap Perekonomian Nasional

Pembangunan Nasional merupakan rangkaian upaya pembangunan yang meliputi seluruh kehidupan masyarakat bangsa, dan negara untuk mencapai tujuan dibentuknya Pemerintah Negara Republik Indonesia yang diamanahkan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Usaha mewujudkan dan melaksanakan pembangunan nasional tersebut salah satunya juga dirorong oleh sektor perindustrian dan sektor perdagangan yang merupakan penggerak utama dalam pembangunan perekonomian nasional, yang dalam jangka panjang diharapkan dapat menunjang peningkatan produksi dan memacu kelancaran arus distribusi Barang dan Jasa. Meskipun sektor perindustrian dan perdagangan ini berperan besar dalam pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB) di Indonesia, tapi tetap saja banyak permasalahan dan hambatan yang menyertainya.

Problem utama di sektor industri di Indonesia adalah munculnya gejala nyata dari deindustrialisasi, yaitu menurunnya peran industri dalam perekonomian secara umum. Secara teori deindustrialisasi ditandai dengan penurunan aktivitas industri manufaktur yang diukur dari penyerapan lapangan kerja dan penurunan unit usaha dalam jangka panjang. Indikator lain mulai terjadinya deindustrialisasi yaitu makin besarnya industri berbasis sumber daya alam dan sebaliknya, industri yang sejatinya manufaktur justru lebih mengecil. Bila menelusuri data BPS, kontribusi sektor industri manufaktur terhadap PDB, sebenarnya mengalami tren penurunan sejak dekade lalu. Pada 2004, sumbangan industri manufaktur terhadap PDB mencapai 28,34%, turun dari tahun sebelumnya 28,84%.

Kinerja Industri di Indonesia ini tercatat semakin menurun dalam beberapa tahun terakhir ini. Sebagai contoh, kontribusi manufaktur merosot pada 2011-2013 dengan pencapaian masing-masing 24,35%, 23,97% dan posisi terakhir yang diumumkan BPS berada di angka 23,69%. Terjadinya fenomena deindustrialisasi ini jelas berdampak negatif bagi perekonomian Indonesia. Setidaknya ada empat akibat terjadinya deindustrialisasi ini, Pertama, semakin berpotensinya negara kita menjadi negara yang konsumtif. Hal ini nantinya dapat dibuktikan dengan neraca ekspor-impor dalam beberapa tahun belakangan ini. Kedua, meningkatkan ketergantungan kepada negara-negara pengekspor barang manufaktur. Ketiga, sulitnya melakukan reindustrialisasi. Keempat, tingkat penyerapan tenaga kerja menurun.

Disamping problem deindustrialisasi tersebut diatas, ada masalah yang sangat krusial dihadapi oleh perekonomian Indonesia sebagai dampak dari melambatnya perekonomian beberapa negara tujuan ekspor serta menurunnya harga komoditas andalan produk ekspor Indonesia yang menyebabkan terjadinya defisit neraca perdagangan (balance of trade) mulai tahun 2012, atau setelah lebih dari 50 tahun sejak era orde lama terakhir kali terjadi. Di mana selama tahun 2012 nilai defisit neraca perdagangan sebesar 1,659 miliar dollar AS. Kondisi defisit neraca perdagangan ini terus berlangsung hingga sekarang, yaitu berdasarkan laporan BPS bahwa neraca perdagangan Januari-Juni 2014 atau pada semester I-2014 mengalami defisit 1,16 miliar dollar AS, terdiri dari defisit migas 6,12 miliar dollar AS, sedangkan nonmigas surplus 4,96 miliar dollar AS. Secara kumulatif, ekspor Januari-Juni 2014 mencapai 88,83 miliar dollar AS, sedangkan impornya pada periode sama sebesar 89,98 miliar dollar AS.

Posisi Indonesia yang menempati urutan ke-empat sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar merupakan pasar yang sangat potensial bagi sektor perdagangan, baik perdagangan dalam negeri maupun berasal perdagangan internasional.. Namun seiring dengan berkembangnya perdagangan bebas, maka dewasa ini semakin banyak produk-produk barang dan jasa dari luar negeri yang menyerbu pasar di domestik. Masalah perdagangan dalam negeri banyak sekali mengalami persoalan yang harus segera di carikan solusi. Mulai dari kurang kompetitifnya produk dalam negeri sampai besarnya biaya logistik yang dihadapi banyak pengusaha di Indonesia dalam menghasilkan produk barang dan jasa.(disarikan dari release fpkb dpr ri)

Related Articles