|  | 

Kegiatan Fraksi

Prihatin Benih Radikal Pelajar, Hindun Anisah Perkuat Paham Aswaja Annahdliyah dalam FGD Deep Learning di Jepara

JEPARA-Prihatin beredarnya pemberitaan di media, terkait terpaparnya paham radikalisme seorang remaja pelajar berusia 14 tahun di Kabupaten Jepara mendorong Wakil Ketua Badan Pengkajian Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) Dr. Hj. Hindun Anisah MA melakukan penguatan paham Ahlussunnah wal Jamaah An Nahdliyyah di kalangan guru dan tenaga kependidikan di lingkungan Yayasan Islam Hasan Kafrawi Desa Pancur Kecamatan Mayong Jepara pada Sabtu 24 Januari 2026.

Kegiatan yang dikemas dalam Focus Group Discussion (FGD) ini diikuti oleh 150 guru dan tenaga kependidikan dari RA, MI, MTs, MA dan SMK yang bernaung di bawah Yayasan Islam Hasan Kafrawi Desa Pancur Mayong Jepara.

Menurut Hindun paparan radikalisme sekecil apapun harus diwaspadai dan dicegah agar tidak menjalar dan mempengaruhi pelajar lain.

"Pengaruh radikalisme menyebar dengan cepat melalui media sosial. Sebagai orang tua dan guru, kita harus memahami perubahan perilaku anak didik sebagai dampak buruk dari tsunami informasi yang demikian dahsyat", kata legislator PKB Dapil Jateng 2 (Jepara, Kudus, Demak).

"Penanaman nilai-nilai luhur Pancasila yang berakar dari pemahaman agama yang benar harus diberikan sejak dini melalui internalisasi moderasi beragama di semua jenjang pendidikan. Peran strategis yayasan dalam mempersiapkan integrasi nilai Aswaja Annahdliyah di dalam kurikulum satuan pendidikan sangat penting", lanjut Doktor Kajian Islam Nusantara Universitas Nahdlatul Ulama Jakarta.

"Sosialisasi empat pilar, moderasi beragama dan penguatan pemahaman Aswaja Annahdliyyah merupakan salah satu cara untuk mencegah radikalisme di kalangan pelajar", tutur Hindun.

Dengan mengutip kitab Hujjah Ahlussunnah Wal Jamaah karya KH. Ali Makshum Krapyak, ia berpesan agar integrasi fikrah nahdliyyah dalam kurikulum pendidikan mendalam (deep learning) mampu menjawab tantangan zaman yang makin kompleks.

"Pemahaman akidah Islam Ahlusunnah Wa Jamaah Annahdliyyah harus adaptif terhadap perubahan sosial, shalihun fi kulli zaman wa makan", ujar Hindun.

Sementara itu, Ketua Yayasan Islam Hasan Kafrawi Pancur H. Miftahurroqib menjelaskan tujuan yang hendak dicapai dalam FGD tersebut.

"Kami berharap melalui diskusi dan pendalaman materi dalam FGD ini dihasilkan kurikulum yang menjadi pijakan kegiatan belajar-mengajar di seluruh ekosistem pendidikan di Yayasan Hasan Kafrawi", ujar Miftahurroqib, yang juga Ketua FPKB DPRD Jepara ini.

Ia berharap pada tahun ajaran 2026-2027 mendatang, seluruh lembaga pendidikan yang berada dalam naungan Yayasan Islam Hasan Kafrawi sudah mengimplementasikan kurikulum pendidikan mendalam dan mengintegrasikan Aswaja Annahdliyyah.

Dalam pengarahan melalui teleconference, Pembina Yayasan Islam Hasan Kafrawi, Prof Dr KH Abdul Muhaya, MA menekankan pentingnya pemahaman kurikulum cinta di kalangan siswa, guru dan seluruh lingkungan madrasah.

"Misi diutusnya Nabi Muhammad adalah rahmatan lil alamin, oleh karenanya proses belajar mengajar harus didasari cinta dan kasih sayang di antara guru, siswa dan lingkungan. Semua proses pembelajaran dilaksanakan dengan kurikulum cinta atau bi ainir rahmah", tutur Muhaya.

Related Articles

A new version of this app is available. Click here to update.